Delusiku Hari Ini
Sebuah delusi yang membingungkan.
Sesuatu yang sering aku campur-adukkan dengan masa lalu. Bahwa aku bisa hidup sampai saat ini adalah karenanya.
Mungkin memang iya.
Di setiap 'masalah mental'ku kambuh, otakku hanya mengingatnya, betapa aku diberi semangat yang luar biasa dikala itu, tepatnya SMA kelas satu, saat orangtuaku sudah tak mampu bersatu.
Kali ini sudah hampir 2 tahun, aku yang masih melekat erat pada depresiku, dan belajar dengan keadaan tanpa hadirnya dia disisiku.
Kurun waktu hampir 2 tahun ini, tentunya ada lelaki yang datang dan pergi tanpa mereka tahu dengan jelas apa yang ku alami. Ada yang kuberi sesengguk tangis di tengah malam, ada yang kuberi pelampiasan kemarahan secara abstrak, ada pula yang kuberi secuil cerita dari permasalahan yang pernah aku terjang.
Satupun dari mereka ternyata tidak ada yang bertahan. Menghadapi aku yang punya moodswing berlebihan.
Berkaca dengan kondisi demikian aku menjadi bersikeras, bahwa obatku hanyalah dia, seseorang yang pernah menenangkanku, dulu. Karena ia terlihat masih tetap ingin berusaha kembali menjalin, namun sayangnya Tuhan tidak ingin.
Malam ini, 16 Mei, aku kambuh lagi. Aku yang takut dengan diriku, aku yang ingin mengakhiri hidupku, aku yang selalu menyalahkan diri sendiri, aku yang merasa bipolar, aku yang tidak mengenal siapa aku, dan kenapa aku masih diberi nyawa oleh Tuhan.
Kuputuskan untuk bertemu seseorang yang kuanggap sebagai 'obat'. Semoga 'sakit'ku hilang, walaupun hanya sesaat, dan hanya itu harapanku.
Ah, sudah lama aku tidak melihat tatapan penuh kasih itu.
Namun sayangnya, tatapan itu ternyata sudah 'purna' menjadi 'obat'. Ternyata apa yang kufikirkan bahwa dia adalah satu-satunya 'obat' benar-benar sudah tidak berlaku.
Hahaha, delusi ini ternyata membutakanku.
Kita berdua sudah berbeda, dan bodohnya aku baru menyadari itu.
Kamu adalah kekasihku di masa lalu.
Dan kali inipun hanya sebatas itu.
Komentar
Posting Komentar